Saturday, May 26, 2012

Sukses... Suksesss.. kemana kau harus ku kejar..

0 comments

10 KESALAH PAHAMAN TENTANG SUKSES

Kesalahpahaman 1
Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain. Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.

Kesalahpahaman 2--
Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan. Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.

Kesalahpahaman 3--
Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu. Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.

Kesalahpahaman 4--
Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan. Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.

Kesalahpahaman 5--
Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses. Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.

Kesalahpahaman 6--
Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses. Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.

Kesalahpahaman 7--
Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.

Kesalahpahaman 8--
Sukses adalah bila semua orang mengakuinya. Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.

Kesalahpahaman 9--
Sukses adalah tujuan. Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"

Kesalahpahaman 10--
Saya sukses bila kesulitan saya berakhir. Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.

(diadaptasi dari "The Top 10 Misconceptions About Success", Jim M. Allen. CoachJim.com)

Friday, May 25, 2012

Tafsir Tematik: Ayat Tentang Pengorganisasian

0 comments
TAFSIR TEMATIK: AYAT TENTANG PENGORGANISASIAN

PENDAHULUAN


“Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya, dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat),  dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh, Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari” (QS Ash Shaff 1-5)

Dalam kajiannya mengenai ayat yang luar biasa ini, banyak sekali kandungan manfaat serta konsep-konsep dalam berorganisasi, bekerja dalam sebuah barisan yang teratur dan kokoh. Salah satu surat Madaniyah ini mengupas secara rinci tentang konsep berjamaah di dalam Islam. Dimana, pengokohan organisasi dan kejamaahan adalah titik tekan dakwah Rasulullah SAW di Madinah, berbeda dengan titik tekan dakwah Rasulullah SAW ketika di Mekkah yang fokus pada pengokohan aqidah dan ruhiyah ummat Islam masa itu. Dalam surat ini, terdapat lima konsep besar yang harus ada untuk mewujudakn organisasi yang kokoh. Yaitu,1) kesesuaian konsep dan pelaksanaan dalam organisasi, 2) soliditas tim, 3) ketepatan mengukur dan mengetahui kekuatan dan tantangan, 4) konsep kesungguhan dalam bekerja dan berjuang, 5) memiliki kader yang militan (kader yang solid).
Dalam bahasannya mengenai ayat pengorganisasian kita harus mengetahui penempatan fungsi pengorganisasian setelah fungsi perencanaan merupakan hal yang logis karena tindakan pengorganisasian menjembatani kegiatan perencanaan dengan pelaksanaannya. Dengan kata lain, tanpa pengorganisasian mustahil suatu rencana dapat mencapai tujuan, tanpa pengorganisasian para pelaksana tidak mempunyai pedoman kerja yang jelas dan tegas, yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif.

PEMBAHASAN
A.    Definisi Istilah
or·ga·ni·sa·si n 1 kesatuan (susunan dsb) yg terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dl perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu; 2 kelompok kerja sama antara orang-orang yg diadakan untuk mencapai tujuan bersama;
peng·or·ga·ni·sa·si·an n proses, cara, perbuatan untuk mengorganisasi;
Pengorganisasian adalah proses untuk memilih dan memilah sumber daya serta mengalokasikan sesuai dengan kapasistasnya dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

B.    Ciri-ciri Pengorganisasian
1.      Organisasi sebagai suatu sistem, yaitu adanya seperangkat unsur yang saling bergantung dan berhubungan antara yang satu dan yang lainnya.
2.      Organisasi merupakan struktur, yang mana mempunyai kadar formalitas, pembagian tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh anggota kelompok.
3.      Adanya perencanaan yang dilakukan secara sadar berdasarkan rasionalitas dan pedoman-pedoman yang jelas.
4.      Adanya koordinasi dan koorprasi yang baik diantara orang-orang yang bekerja sama, menunjukkan bahwa tindakan-tindakan orang-orang tersebut berjalan ke arah suatu tanggung jawab tertentu.


C.    Unsur-unsur Pengorganisasian
Adapun unsur-unsur dalam pengorganisasian adalah : 
a)      Manusia, yakni orang-orang yang bekerja sama, ada pimpinan dan ada yang dipimpin, dan seterusnya.
b)      Sasaran, yakni tujuan yang ingin dicapai.
c)      Tempat kedudukan dimana manusia memainkan peran, wewenag dan tugasnya.
d)     Pekerjaan dan wewenang sesuai dengan peran dan kedudukannya yang disusun dalam pembagian tugas.
e)      Teknologi, yakni berupa hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain sehingga tercipta organisasi.
f)       Lingkungan, yakni adanya lingkungan yang saling mempengaruhi, misalnya ada sistem kerja sama sosial.

D.    Pembagian Indeks Tematik Ayat-ayat Pengorganisasian
Mengacu pada definisi istilah organisasi atau pengorganisasian diatas, penulis mengambil kata “kesatuan” dan saling “tolong menolong” sebagai kata kunci dalam bahasan kajian tematik ayat pengorganisasian.
Indeks ayat-ayat tematik berdasarkan kata kunci diatas adalah :
Persatuan / Kesatuan Sosial  
1.      Al-Baqrah (Sapi Betina) 2:43,
2.      An-Nisaa’ (Wanita) 4:71,
3.      Ash Shaaffaat (yang bershaf-shaf) 37:1,
4.      Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi) 21:92,
Tolong menolong / Kerjasama Sosial
1.         Al Maa’idah (Hidangan) 5:2,
2.         Al Imraan (Keluarga Imran) 3:110,
3.         Al Anfaal (Rampasan Perang) 8: 74,
4.         At Taubah 9:71,

E.    Pembahasan Ayat-ayat Pengorganisasian
1.    “Kesatuan Sosial” (Al-Anbiya 92)

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ(92)
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu[1] dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al-Anbiyaa’ 92)

Dalam Tafsir Al-Qurtuby:
Kata umat yang satu kesatuan dalam kebenaran. Ini adalah agama kalian selama menjadi agama dan kalian bersatu pada tauhid, bila tercerai berai dan saling menyelisihi, maka orang itu tidak termasuk pemeluk agama yang hak.

Dalam Tafsir Maroghi :

{إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً} أي دينكم وملتكم التي يجب أن تكونوا عليها أيها الناس ملةٌ واحدة غير مختلفة وهي ملة الإِسلام، والأنبياء كلهم جاؤوا برسالة التوحيد قال ابن عباس: معناه دينكم دينٌ واحد {وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ} أي وأنا إِلهكم لا ربَّ سواي فأفردوني بالعبادة


Sedangkan keterangan kata “ummat” dalam Tafsier, adhwa'ul bayan fi idhohil Qur'an bil qur'an, juz 3 adalah :
إستعمل لفظ {الأمَّة} في القرآن أربعة استعمالات:
الأول: هو ما ذكرنا هنا من استعمال الأمة في البرهة من الزمن.
الثاني: استعمالها في الجماعة من الناس، وهو الاستعمال الغالب، كقوله {وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسْقُونَ}، وقوله: {وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولٌ}، وقوله {كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً}، إلى غير ذلك من الآيات.
الثالث: استعمال {ٱلأُمَّة} في الرجل المقتدى به. كقوله: {إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً}.
الرابع: استعمال {ٱلأُمَّة} في الشريعة والطريقة. كقوله: {إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ}، وقوله: {إِنَّ هَـٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً}، إلى غير ذلك من الآيات. قوله تعالى: {مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ}. صرح تعالى في هذه الآية الكريمة: أن من عمل عملاً يريد به الحياة الدنيا أعطاه جزاء عمله في الدنيا، وليس له في الآخرة إلا النار.
Analisa Ayat :
Dalam ayat diatas, digambarkan umat islam secara otomatis diposisikan dalam suatu ikatan sosial berlandaskan keimanan yang berusaha mencapai tujuan bersama yakni mendapat Ridho Ilahi.            Salah satu cara mencapai tujuan organisasi adalah dengan menempatkan sumber daya manusia pada posisi yang sesuai dengan kompetensinya. Tapi lebih yang lebih penting adalah bagaimana menumbuhkan “jiwa kesadaran” setiap manusia yang tergabung didalamnya untuk bertanggung jawab dalam setiap pekerjaanya. Jiwa kesadaran itu mustahil terbentuk tanpa adanya iman dalam hati. Karena dengan iman, membuat manusia sadar, dalam bekerja harus diawali niat mengharap ridho Ilahi (keikhlasan). Dari sadar diri, timbul sadar bersama untuk mencapai tujuan pribadi atau kelompok.

2.    Kerjasama Sosial / Tolong Menolong” (Al-Maidah 2)

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ(2)
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.(Al-Ma’idah ayat 2)

Dalam Tafsir At-Thabari
Menurut Ibn Athiyah kata البر adalah segala kebaikan yang ada kala berhubung dengan perbuatan wajib dan sunnah. Dan kata "التقوي" hanya pekerjaan wajib saja. Menurut Mawardi kata  البر berarti keindahan yang banyak dan "التقوي" keridhoan Allah. Jadi bertolong-tolonglah kamu yang menyenangkan hati orang banyak dalam meridhokan Allah, jika manusia dapat melakukan itu maka sempurnalah kebahagiaanya.
Sedangkan kebaikan menurut Rasulullah “ apa yang menentramkan jiwa dan dosatu apa yang tergores-gores dalam hati dan membuat tidak tenang, jika engkau meminta fatwa maka mintalah fatwa itu kepada hatimu. Riwayat Abu Syaibah, Bukhari, Muslim, Tirmizi, Hakim dan Baihaqi.

Dalam Tafsir Maraghi
{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ} أي تعاونوا على فعل الخيرات وترك المنكرات، وعلى ما يقرب إِلى الله {وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} أي خافوا عقابه فإِنه تعالى شديد العقاب لمن عصاه.
Analisa ayat :
Tak dapat dipungkiri lagi untuk mencapai sebuah tujuan, harus terjalin persatuan yang kokoh antar lini, salah satunya saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Apabila ada masalah dipecahkan bersama, apabila ada cobaan dilalui bersama, apabila ada persoalan diselesaikan bersama. Seperti disebutkan pada ayat diatas, sebagai sesama, kita diwajibkan tolong menolong dalam hal kebaikan.

3.    Solidaritas Sosial (Al-Imran 110)
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ (110)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Imraan ayat 110)

Tafsir At-Thabari
Maksud ayat (kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia) adalah sebagaimana dijelaskan oleh Nabi SAW…”kalian adalah penyempurna tujuh puluh umat. Kalian adalah umat yang paling terakhir, dan paling terhormat di hadapan Allah.”
Maksud ayat : menyuruh (berbuat) yang makruf), yaitu memerintah iman kepada Allah dan rasulNya, serta mengamalkan syariatNya. [2]

Tafsir Ibnu Katsir
Allah Swt. Sangat memuliakan umat Nabi Muhammad Saw. Dia memberikan keutamaan luar biasa kepada umat Islam. Disebutkan, umat Muhammad adalah umat paling utama diantara umat para nabi terdahulu. Itulah maksud ayat (kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia). Ibnu Mas’ud meriwayatkan, Rasululah saw. mengungkapkan keinginan beliau bahwa umat Islam kelak menjadi kelompok mayoritas di surga. Mendengar ungkapan tersebut, para sahabat bangga, kemudian Rasulullah bersabda sebagai berikut. “Demi Zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya aku sangat berharap kalian semua akan menjadi separuh dari seluruh penduduk surge.” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga besabda sebagai berikut. “barisan penduduk surga terdiri dari 120 baris. Kalian (Umat Islam) memenuhi 80 baris diantaranya.” (HR. Ahmad, Tirmizi dan Ibnu Majah).
“Sesungguhnya para nabi tidak akan masuk ke dalam surga sebelum aku masuk ke dalamnya dan umat mana pun tidak akan diperbolehkan masuk kedalamnuya sebelum umatku memasukinya.” (HR. Abu Ahmad). Dhamir dalam hadist memang menggunakan kata aku, tetapi maksudnya umat Islam secara keseluruhan. Ayat dan hadist tadi menunjukkan uamt Rasulullah Saw. adalah umat yang paling utama diantara hamba Allah. Sementara itu, Allah mencela Ahlul Kitab yang senantiasa mengingkari risalah kenabian dan melakukan pelbagai penyimpangan terhadap risalah dalam kitab-kitab samawi.[3]
Dalam sebuah hadist shahih riwayat Imran bin Husain ra. Bahwa Rasulullah bersabda, “sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu ialah yang hidup pada zaman kurunku (sahabat), kemudian orang-orang yang hidup sesudah kurunku (tabi’in), kemudian orang yang hidup sesudah mereka (tabi’ut tabi’in), kemudian orang-orang yang hidup sesudah mereka.” (HR Muslim, 4603).

Tafsir Maraghi
{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ} أي أنتم يا أمة محمد خير الأمم لأنكم أنفع الناس للناس ولهذا قال {أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ} أي أخرجت لأجلهم ومصلحتهم، روى البخاري عن أبي هريرة قال: أي خير الناس تأتون بهم في السلاسل في أعناقهم حتى يدخلوا في الإِسلام {تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ} وهذا بيان لوجه الخيرية كأنه قيل السبب في كونكم خير أمة هذه الخصال الحميدة روي عن عمر رضي الله عنه أنه قال "من سرَّه أن يكون من هذه الأمة فليؤد شرط الله فيها".


Analisa Ayat :
Ciri dari bangunan yang kokoh adalah seluruh komponen di dalamnya saling menguatkan satu dengan yang lain. Dapat dirinci, bahwa soliditas organisasi memiliki tiga ciri, yaitu: masing-masing komponen didalamnya bisa menguatkan satu dengan yang lain, bersinergi dalam bekerja serta memiliki program yang jelas, termasuk pembagian pelaksanaan program (pembagian potensi dan pemanfaatan kemampuan). Dalam hal ini, diperlukan adanya ketepatan di dalam penempatan orang. Siapa yang harus jadi tiang, jendela, atap, dsb.
Dan salah satu bentuk solidaritas sosial dalam sebuah organisasi adalah kewajiban menyuruh kepada kebaikan dan melarang keburukan. Karena dengan konsep itu dapat memperkokoh organisasi dalam mencapai tujuannya.




KESIMPULAN
1.      Dasar penulis mengambil ayat-ayat pengorganisasian yaitu sesuai dengan definisi istilah organisasi dan pengorganisasian dalam kamus Besar Bahasa Indonesia dengan kata kunci dan “persatuan” dan “tolong menolong”.
2.      Tiga ayat yang menjadi topik bahasan penulis yaitu: 1) Surat Al-Anbiyaa’ ayat 92 mewakili topik kesatuan sosial, 2) Surat Al-Ma’idah ayat 4 mewakili topik kerjasama sosial atau tolong menolong, 3) Surat Al-Imraan ayat 110 mewakili topik solidaritas sosial.
3.      Kesimpulan ketiga ayat diatas adalah
Al-Anbiyaa ayat 92.
Salah satu cara mencapai tujuan organisasi adalah dengan menempatkan sumber daya manusia pada posisi yang sesuai dengan kompetensinya. Tapi lebih yang lebih penting adalah bagaimana menumbuhkan “jiwa kesadaran” setiap manusia yang tergabung didalamnya untuk bertanggung jawab dalam setiap pekerjaanya. Jiwa kesadaran itu mustahil terbentuk tanpa adanya iman dalam hati. Karena dengan iman, membuat manusia sadar, dalam bekerja harus diawali niat mengharap ridho Ilahi (keikhlasan). Dari sadar diri, timbul sadar bersama untuk mencapai tujuan pribadi atau kelompok.

Al-Maidah ayat 2
Untuk mencapai sebuah tujuan, harus terjalin persatuan yang kokoh antar lini, dengan cara tolong-menolong dalam hal kebaikan. Apabila ada masalah dipecahkan bersama, apabila ada cobaan dilalui bersama, apabila ada persoalan diselesaikan bersama. Seperti termaktub pada ayat 4 surat Al-Ma’idah, sebagai sesama, kita diwajibkan tolong menolong dalam hal kebaikan.

Al-Imraan ayat 110
Ciri dari bangunan yang kokoh adalah seluruh komponen di dalamnya saling menguatkan satu dengan yang lain. Dapat dirinci, bahwa soliditas organisasi memiliki tiga ciri, yaitu: masing-masing komponen didalamnya bisa menguatkan satu dengan lain, bersinergi dalam bekerja serta memiliki program yang jelas, termasuk pembagian pelaksanaan program (pembagian potensi dan pemanfaatan kemampuan). Dalam hal ini, diperlukan adanya ketepatan di dalam penempatan orang. Siapa yang harus jadi tiang, jendela, atap, dsb.

DAFTAR RUJUKAN

·         Al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Beirut: Dar al-Fikr.
·         Al-Mishbah Al-Munir fi Tahzib, Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 188-189
·         Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Departemen Agama R.I.
·         Al-Qurthubi, al-Jami` li Ahkam al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr.
·         H.M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati.
·         Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-`Azhim, Beirut: Dar al-Fikr.
·         Musthofa, Ahmad, Tafsir Al-Maroghi, Darul Fikri, Libanon,
·         Marno dan Triyo Suprayitno. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: PT. Refika Aditama. 2008.
·         Suryosubroto. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2010.
·         Tafsir, At-Thabari Jilid V, 2001: 671-678
·         www. al-quran-dan-hadist.com, di akses tanggal 25 Desember 2011 pukul 17.00
·         www.dakwatuna.com, diakses tanggal 25 Desember 2011 pukul 17.38


[1] Maksudnya: sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari'at
[2] At-Tabari Jilid V, 2001: 671-678.
[3] Al-Mishbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 188-189
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com